Welcome

widget

29 Maret 2010

Pembuatan Form Login dengan PHP

Untuk membuat form Login secara sederhana dalam bahasa php dapat ditujukan pada kode program berikut ini:
1. ketik program berikut ke dalam notepad
<!DOCTYPE html
PUBLIC "-//W3C//DTD XHTML 1.0 Transitional//EN"
"http://www.w3.org/TR/xhtml1/DTD/xhtml1-transitional.dtd">
<html xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" xml:lang="en"

lang="en">

<head>
<title>Login</title>

</head>
<body>

<?php


$adminpass = "5f4dcc3b5aa765d61d8327deb882cf99";

"password" (md5 encryption).

session_start();

function admin(){
if(isset($_GET['logout'])) {
unset($_SESSION['logpassneh']);
echo"<META HTTP-EQUIV=\"refresh\" CONTENT=\"0; URL=$_SERVER

[PHP_SELF]\">"; }

else {
echo"<h1>Login Successful....<br />This is Page Secret<br

/>Thanks for Login</h1>
<a href=\"$_SERVER[PHP_SELF]?logout=1\">Logout</a>";
// end of page secret
} }

if(isset($_POST['password'])) {
$_POST['password']=md5($_POST['password']);
if($_POST['password']==$adminpass) {
$_SESSION['logpassneh'] = $_POST['password'];
admin(); }
else {
$true = explode("'", "Selamat Datang. ' Try Again!");
echo"<h1><font color=green>$true[0]</font></h1><a

href=\"$_SERVER[PHP_SELF]\">$true[1]</a>"; } }



elseif(isset($_SESSION['logpassneh'])) {
if($_SESSION['logpassneh']==$adminpass) {
admin(); } }

else {
echo"
<form method=POST>
Username<br />
<input type=username size=20 name=username> <br /><br />

Password<br />
<input type=password size=20 name=password> <br /><br />

<input type=submit name=login value=\"LOGIN \">
</form>"; }
?>

</body>

</html>

2. simpan dalam ekstensi .php
3. maka hasilnya seperti berikut:

4. selamat mencoba

15 Maret 2010

Kembangkan Agro Wisata, Tanam 3000 Pohon Durian di Klino


Wilayah selatan Kabupaten Bojonegoro, ternyata memiliki potensi wisata alam yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan. Salah satunya berada di Desa Klino, Kecamatan Sekar. Desa yang berada di puncak gunung pandan dengan ketinggian sekitar 150 meter lebih diatas permukaan laut akan dikembangkan menjadi agro wisata.

Menurut, Camat Sekar, Ali Machmudi, rencananya kawasan Klino akan dijadikan agro wisata dengan penanaman pohon durian. “Hal ini dimaksudkan untuk menjadikan wilayah selatan Bojonegoro menjadi kawasan agro wisata sekaligus untuk mendorong perekonomian masyarakat,” katanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, lanjut Ali, pihaknya akan mengawali dengan melakukan penanaman pohon durian sekitar 3.000 pohon. “Ini akan dibagikan kepada masyarakat sebagai langkah awal untuk pengembangan kawasan agro wisata seperti yang kita harapkan,” imbuhnya.


Ali menambahkan, konsep pengembangkan kawasan wisata buah tersebut, dilakukan bekerja sama dengan Bank Mandiri dan dijadwalkan pertengahan 2009 ini penanaman tanaman durian sudah mulai dilakukan. ”Adapun pola tanamnya, anakan pohon durian dibagikan kepada masyarakat yang sekaligus merawat pohon itu. Sebelum ini, lanjutnya, di desa setempat sudah ada dua jenis buah pohon durian yang ditanam warga dan ternyata mampu menghasilkan buah dengan kualitas yang cukup bagus,” jelas Ali Mahmudi.

Meski begitu, Ali belum tahu, berapa jumlah warga setempat yang bersedia lahannya ditanami durian. Tetapi, konsep pengembangan kawasan tersebut sudah mulai disosialisasikan kepada masyarakat dan disambut dengan gembira. ”Namun, sebagai penunjang kawasan tersebut menjadi kawasan wisata, akses jalan di Desa Klino, yang jaraknya berkisar 70 km dari Kota Bojonegoro, diprogramkan pada 2009 ini diperbaiki,” pungkasnya. (pemkab)

BOJONEGORO MILIKI SEMBILAN MOTIF BATIK



Kabupaten Bojonegoro kini memiliki motif batik khas daerah. Motif itu yakni, jagung, tembakau, minyak (gotro), sapi, wayang tengul, jati, padi, kayangan dan api. Ke sembilan motif tersebut sempat dilaunching Desember 2009 lalu.(st)
Kabupaten Bojonegoro kini memiliki motif batik khas daerah. Motif itu yakni, jagung, tembakau, minyak (gotro), sapi, wayang tengul, jati, padi, kayangan dan api. Ke sembilan motif tersebut sempat dilaunching Desember 2009 lalu.
Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro, Ny Maffudoh Suyoto melalui Humas Pemkab, Kamis (7/1) mengatakan, dengan dilaunchingnya sembilan motif batik Bojonegoro tersebut, menjadi wujud keberhasilan dalam mengangkat nama Bojonegoro keluar daerah.
“Keinginan untuk mengembangkan usaha yang asli atau khas Bojonegoro, memang telah menjadi angan-angan jauh, akan tetapi keinginan tersebut baru terlaksana hari ini,” kata Ibu Maffudoh Suyoto.


Menurutnya, sebenarnya di Bojonegoro ada batik yang telah lama menggema yaitu Batik Jumput dari Desa Prayungan Kecamatan Sumberejo. Namun agar batik Bojonegoro bisa lebih dikenal, beberapa waktu yang lalu Tim Penggerak PKK Kabupaten Bojonegoro juga mengadakan lomba mendesain batik khas Bojonegoro. Dari 600 karya yang ada setelah dilakukan seleksi, lahirlah sembilan motif batik tersebut.
“Dari kesembilan motif batik Bojonegoro ini akan menjadi motif awal sebelum muncul motif lain. Diharapkan ini bisa membuat nama Bojonegoro dikenal di negara lain, apalagi pada launching dihadiri juga oleh Dubes Swis,” katanya.
Dengan diresmikannya sembilan motif batik Jonegoro ini, masyarakat Bojonegoro harus mau ikut membudayakan. Terutama para pegawai pemerintah yang harus menggunakan pada Kamis dan Jumat.
Untuk pengusaha bisa menganjurkan penggunaan batik pada karyawannya. Sementara bagi siswa sekolah juga bisa diseragamkan pada setiap hari jum’at. “Jangan setelah dilaunching lalu dilipat, harus digunakan dan mulailah gemar menggunakan batik Bojonegoro dalam setiap kegiatan,“ ujarnya.
Dalam catatan budayanya, batik di Bojonegoro ada dua jenis, yakni Batik Jumput dan Batik Madrim. Batik Madrim, yakni batik yang mengambil kisah Patih dari Raja Angling Darma dari Kerajaan Malowopati yang petilasannya ada di Desa Wotan Ngare Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.(st/j)Dinas Komunikasi dan Informatika Prov. Jatim

Garap Dander Park, Investor Siapkan Rp 344 M


Pemkab Bojonegoro tampaknya bakal merealisasikan proyek Dander Park sebagai pusat wisata di Bumi Angling Dharma. Dijadwalkan proyek tersebut akan dilaksanakan pada tahun ini.

“Kami akan mengembangkan industri pariwisata di Bojonegoro, terutama pengembangan Dander Park, seperti yang telah kita rencanakan,” ujar Mardikun, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat, kepada berita www.infokom-bjn.info, kemarin.

Dijelaskan, untuk menggarap project Dander Park, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan instasi terkait, baik swasta maupun perhutani.

“Apalagi, sudah ada pihak investor yang bersemangat untuk menanamkan modalnya di Bojonegoro, terutama dalam project Dander Park ini,” katanya.

Dikabarkan, investor yang namanya masih belum diketahui itu siap menanamkan investasi sebesar Rp 344 miliar untuk disatu titik, yakni wisata Dander.

Hal senada juga disampikan Ketua Komisi C DPRD Bojonegoro, M Fauzan, bahwa investor tersebut serius akan menggarap pariwisata di wilayah Kecamatan Dander.

Menurutnya, investor tersebut telah menghubungi Pemkab Bojonegoro. "Kami mendesak agar Pemkab Bojonegoro serius untuk merealisasikan Dander Park," terangnya.

Politisi asal Partai Demokrat (PD) tersebut, pihaknya telah diberitahukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bojonegoro. "Kami sangat bersyukur, kalau Kabupaten Bojonegoro ternyata juga telah dilirik oleh investor dengan modal besar," terangnya.

Sementara itu, untuk realisasi Dander Park masih terganjal izin di Perhutani pusat, khususnya mengenai pengelolaan wilayah hutan. "Dewan akan membantu semaksimal mungkin untuk merealisasikan Dander Park," tegas Fauzan.

Sebab, dengan adanya tempat wisata yang strategis dan layak, maka nantinya bisa menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD) secara berkelanjutan. "Bojonegoro tidak hanya bisa mengandalkan minyak saja yang sifatnya bisa habis. Namun, butuh pemasukan lain yang bisa terus menerus, salah satunya sector pariwisata," imbuhnya. (git)

BPSNT Yogyakarta Teliti Legenda Anglingdharma


BOJONEGORO, KOMPAS.com–Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) di Yogyakarta, meneliti legenda kerajaan Malowopati dengan rajanya Anglingdharma di Bojonegoro, Jawa Timur.

“Dari laporan sementara, berdasarkan fakta yang ada di lapangan, ternyata ada sejumlah tempat dan nama di Bojonegoro, yang juga ada di dalam referensi naskah kuno serat Anglingdharma,” kata Kepala Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Bojonegoro, Saptatik, Selasa.

Tim BPSNT Jogyakarta yakni Drs Sukarni, Dra Suyami dan Hery Istiawan, melakukan penelitian di situs Mlawatan di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, pada bulan Mei dan 3 Oktober lalu.

Dijadwalkan, pada 25 November ini, tim akan mengungkap hasil penelitiannya kepada masyarakat di Balai Desa Wotangare, dengan mengundang tokoh masyarakat setempat.



Dia menjelaskan, di lokasi penelitian di Desa Wotangare, Kecamatan Kalitidu, yang dikenal masyarakat merupakan sentral kerajaan Malowopati dengan rajanya Anglingdharma, terdapat sejumlah tempat atau nama yang juga tertulis di dalam naskah kuno.

Dalam laporannya di lokasi yang dianggap petilasan Anglingdharma di desa setempat, tempat yang namanya sama dengan naskah kuno Serat Anglingdharma, di antaranya, Dusun Budak, Tanah Tibong (tempat istri Anglingdharma membakar diri), Kedungandu, dan nama sebutan Demang Klingsir atau orang yang pekerjaannya sebagai penangkap burung dan memelihara burung.

Di samping itu, di dalam laporan itu, disebutkan adanya tanah “mbag” (tanah gembur memanjang) dan Punden Besalen. Menurut Saptatik, sejumlah lokasi dan nama yang sudah diketahui masyarakat di sekitar situs Mlawatan tersebut, ternyata tercantum di dalam naskah kuno Serat Anglindharma.

Menurut dia, di Punden Besalen di lokasi situs Mlawatan, selama ini menjadi ajang perburuan orang untuk mencari pusaka.

“Warga setempat banyak yang menemukan benda pusaka, yang diperkirakan merupakan peninggalan raja Anglingdharma,” katanya menjelaskan.

Sebab, lanjutnya, Punden Besalen, diyakini warga setempat, merupakan tempat pembuatan pusaka di jaman kerajaan Malowopati.

Termasuk tanah mbag tersebut diyakni masyarakat, merupakan tempat pengamanan istana kerjaan Malowopati.

“Ini sejumlah foto benda pusaka dan batu bata, yang diperkirakan berasal dari jaman kerajaan Malowopati,” kata Saptatik, sambil menunjukkan sejumlah foto dari hasil laporan penelitian Tim BPSNT Jogyakarta.

Menjawab pertanyaan, Saptatik masih belum berani menyimpulkan situs Mlawatan memang benar bekas kerajaan Malawapati dengan rajanya Anglingdharma, yang selama ini selalu menjadi idola masyarakat di Bojonegoro.

“Ya kita lihat bagaimana hasil laporan dari tim dalam pertemuan dengan tokoh masyarakat setempat,” katanya menambahkan.

Yang jelas, menurut ia, warga masyarakat di sekitar lokasi situs Mlawatan, mendesak kepada pemerintah, daerah setempat dikembangkan menjadi lokasi obyek pariwisata, dengan mendirikan musium dan menjadikan Waduk Wotangare, sebagai sarana rekreasi air.

“Kalau di lokasi setempat didirikan musium, warga penemu pusaka bersedia menyerahkan ke museum,” katanya.